Profil Pejabat & Pegawai

HUKUM ISLAM DALAM SISTEM KEKERABATAN

HUKUM ISLAM dalam SISTEM KEKERABATAN

Oleh : M. Refi Malikul Adil, S.H.

Latar Belakang dan Rumusan Masalah

            Hukum Islam dalam dimensi filsafatnya dapat memasuki tiap-tiap sisi kehidupan, sebab hukum Islam tak lagi hanya dipandang dari sisi tekstualnya saja, melainkan lebih diutamakan penggaliannya dalam sisi kontekstual. Sisi kontekstual hukum Islam dapat menjangkau tiap-tiap sisi kehidupan, tidak hanya hal-hal yang dijangkau hukum Islam pada umumnya, yang dikategorikan dalam hal muamalah dan ubudiyah, namun juga termasuk perkara-perkara kontemporer yang dirumuskan setelah masa fuqaha’ dan ahli ushul.

            Salah satu dariperkara yang menjadi pembahasan dalam filsafat hukum Islam adalah sistem kekerabatan. Sistem kekerabatan secara singkat diartikan sebagai unit sosial dimana anggota-anggotanya mempunyai hubungan keturunan (hubungan darah).[1]Sistem kekerabatan secara umum dilihat dari segi laki-laki dan perempuan sebagai pusat kekerabatan.

            Terdapat banyak sistem kekerabatan di Indonesia, dikarenakan perbedaan suku, etnis dan budaya. Perbedaan ini meyebabkan perbedaan hukum yang mengatur tiap-tiap sistem kekeluargaan tersebut. Maka peranan filsafat hukum Islam dalam memaknai hukum tiap-tiap sistem kekerabatan diperlukan dalam kasus ini, sehingga hukum Islam dapat diterima dalam setiap sistem kekerabatan.

            Berdasarkan paparan diatas, maka rumusan masalah yang diangkat ialah Bagaimana peranan hukum Islam dalam sistem kekerabatan?

Sistem Kekerabatan

Sistem kekerabatan secara bahasa disebut dengan hubungan darah. Kerabat ialah mereka yang bertalian berdasarkan ikatan darah dengan seseorang.[2]Kekerabatan merupakan unit sosial dimana anggota-anggotanya mempunyai hubungan keturunan (hubungan darah). Seseorang dianggap sebagai kerabat oleh orang lain karena dianggap masih satu keturunan atau mempunyai hubungan darah dengan ego. Ego adalah seseorang yang menjadi pusat perhatian dalam suatu rangkaian hubungan, baik dengan seseorang ataupun dengan sejumlah orang lain. Sistem kekerabatan adalah serangkaian atura yang mengatur penggolongan orang-orang sekerabat. Mencakup berbagai tingkat hak dan kewajiban diantara kerabat. Contohnya : kakek, ayah, ibu, anak, cucu, keponakan dan seterusnya. Sedangkan bentuk kekerabatan lain yang terjalin akibat adanya hubungan perkawinan antara lain ; mertua, menantu, ipar, tiri dan lain-lain.[3]

Dalam  sistem  kekerabatan  masyarakat  adat,  keturunan  merupakan  hal  yang  penting  untuk  meneruskan  garis  keturunan  (clan)  baik  garis  keturunan  lurus  atau  menyamping.  Seperti  di  masyarakat  Bali  dimana  laki-laki  nantinya  akan  meneruskan Pura keluarga untuk menyembah para leluhurnya.  Pada umumnya keturunan mempunyai hubungan hukum yang didasarkan pada hubungan  darah,  antara  lain  antara  orangtua  dengan  anak-anaknya.  Juga  ada  akibat  hukum  yang  berhubungan  dengan  keturunan  yang  bergandengan  dengan  ketunggalan  leluhurnya,  tetapi  akibat  hukum  tersebut  tidak  semuanya  sama  diseluruh  daerah.  Meskipun akibat hukum yang berhubungan dengan ketunggalan leluhur diseluruh daerah  tidak sama, tapi dalam kenyataannya terdapat satu pandangan pokok yang sama terhadap masalah keturunan ini diseluruh daerah, yaitu bahwa keturunan adalah merupakan unsure  yang hakiki serta mutlak bagi suatu klan, suku ataupun kerabat yang menginginkan agar  garis keturunannya tidak punah, sehingga ada generasi penerusnya.

Secara umum sistem kekerabatan dibagi menjadi tiga, yaitu patrilineal, matrilineal dan parental.

  1. Patrilineal

Sistem kekerabatan patrilineal ialah sistem dimana seseorang itu selalu menghubungkan dirinya kepada ayahnya dan karena itu termasuk kedalam klan ayahnya.[4] Sistem kekerabatan tersebut lebih condong pada  garis keturunan ayah. Selain itu, anak juga menghubungkan diri dengan kerabat ayah berdasarkan garis keturunan laki-laki secara unilateral. Susunan masyarakat dalam sistem patrilineal yang berdasarkan garis keturunan bapak (laki-laki), keturunan dari pihak bapak (laki-laki) dinilai mempunyai kedudukan lebih tinggi serta hak-haknya juga akan mendapatkan lebih banyak.

Adapun ciri-ciri kekerabatan patrilineal adalah:

  1. Menimbulkan kesatuan-kesatuan kekeluargaan besar, seperti klan, marga dan suku, sama dengan sistem kekerabatan matrilineal
  2. Garis kekeluargaan dihubungkan lewat garis ayah (laki-laki)

Bentuk perkawinan adalah exogami, sama dengan matrilineal, bahwa nikah hanya boleh dengan orang di luar marga/suku/klan. Berarti dilarang perkawinan antar-satu suku (indogami). Dengan demikian, tidak mungkin terjadi indogami.[5]

  1. Matrilineal

Kekerabatan marilineal adalah sistem kekerabatan yang menyusuri silsilah keturunannya melalui garis wanita. Kerabat matrilineal ini pun dapat terdiri atas klan kecil matrilineal dan klan besasr matrilineal. Para anggota kerabat keluarganya percaya bahwa mereka berasal dari keturunan nenek moyang perempuan yang sama. Beberapa ciri matrilineal:

  1. Harta warisan jatuh ke tangan anak perempuan saja.
  2. Pola menetap sesudah perkawinan matrilokal atau uxorilokal.
  3. Terbentuknya klan melalui garis perempuan.
  4. Kekuasaan di tangan saudara laki-laki ibu .
  5. Bilateral (Parental)

Kekerabatan semacam ini merupaka percampuran antara patrilineal dan matrilineal, adakalanya keduanya beralan beriringan, namun adakalanya juga dalam kepentingan tertentu secara patrilineal dan kepentingan lain secara matrilineal. Suku bangsa Umbundu misalnya, suatu suku bangsa peternakan yang tinggal di daerah padang rumput di dataran tinggi Benguella di Angola, Afrika Barat, yang hidup dari peternakan lembu secara besar-besaran dan dikombinasikan dengan pertanian. Hubungan kekerabatan pada masyarakat ini diperhitungkan secara bilineal dan tiap individu mengurus ternaknya bersama kerabat ayahnya yang disebut oluse, serta bergotongroyong dalam pertanian bersama kerabat ibunya yang disebut oluina. Hukum adat waris orang umbundu menentukan bahwa ternak diwariskan secara patrilineal, sedangkan tanah secara matrilineal.[6]

Hukum Islam dalam Sistem Kekeluargaan

Dalam sistem kekerabatan, hukum Islam yang sangat berpengaruh adalah hukum perkawinan dan kewarisan. Sebab kedua hukum ini berkaitan langsung dengan sistem kekeluargaan.

Secara tekstual, hukum Islam lebih mendahulukan sistem kekerabatan patrilineal daripada matrilineal dan bilateral. Hal ini tercermin dalam surat Annisa’ ayat 34:

ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ وَبِمَآ أَنفَقُواْ مِنۡ أَمۡوَٰلِهِمۡۚ فَٱلصَّٰلِحَٰتُ قَٰنِتَٰتٌ حَٰفِظَٰتٞ لِّلۡغَيۡبِ بِمَا حَفِظَ ٱللَّهُۚ وَٱلَّٰتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَٱهۡجُرُوهُنَّ فِي ٱلۡمَضَاجِعِ وَٱضۡرِبُوهُنَّۖ فَإِنۡ أَطَعۡنَكُمۡ فَلَا تَبۡغُواْ عَلَيۡهِنَّ سَبِيلًاۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيّٗا كَبِيرٗا ٣٤

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Ayat di atas secara tekstual menunjukkan bahwa kedudukan ayah atau suami lebih tinggi daripada isteri atau ibu, karena laki-laki merupakan pemimpin  bagi perempuan. Oleh karena itu, sistem kekerabatan yang ditunjukkan dalam Al-Qur’an adalah sistem kekeluargaan patrilineal.

Namun, apabila ditelaah secara lebih dalam, maka ayat tersebut juga mengisyaratkan sistem matrilineal, sebab nama surat yang dijadikan dalil di atas adalah An-Nisa’ yang berarti perempuan, dan lafadz yang digunakan dalam ayat tersebut adalah Ar-Rijal, dan bukan Adz-Dzakar, sebab kata Ar-Rijal lebih mengarah kepada pekerjaan, yang ditunjukkan dengan akar kata yang sama dengan Ar_Rijl (kaki), yang mana kaki di ibaratkan kepada “melangkah” dalam artian, “melangkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga”.  Sedangkan lafdz an-Nisa’ merupakan bentuk jama’ dari al-mar’ah, yang memiliki akar kata yang sama dengan al-mir’ah (cermin), yang diasosiasikan dengan kegiatan perempuan yakni berhias. Dari pemaparan ini dapat diambil kesimpulan bahwa perempuan (An-Nisa’) juga dapat menjadi pemimpin ketika merupakan tulang punggung keluarga, dan suami sebagai pemelihara rumah. Kondisi ini sesuai dengan sistem kekeluargaan Matrilineal.

Selain itu, sistem pembagian waris yang menyebutkan bahwa laki-laki memiliki bagian seperti bagian dua perempuan, seperti yang diisyartkan dalam surat An nisa’ ayat 11:

يُوصِيكُمُٱللَّهُ فِيٓ أَوۡلَٰدِكُمۡۖ لِلذَّكَرِ مِثۡلُ حَظِّ ٱلۡأُنثَيَيۡنِۚ فَإِن كُنَّ نِسَآءٗ فَوۡقَ ٱثۡنَتَيۡنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَۖ وَإِن كَانَتۡ وَٰحِدَةٗ فَلَهَا ٱلنِّصۡفُۚ وَلِأَبَوَيۡهِ لِكُلِّ وَٰحِدٖ مِّنۡهُمَا ٱلسُّدُسُ مِمَّا تَرَكَ إِن كَانَ لَهُۥ وَلَدٞۚ فَإِن لَّمۡ يَكُن لَّهُۥ وَلَدٞ وَوَرِثَهُۥٓ أَبَوَاهُ فَلِأُمِّهِ ٱلثُّلُثُۚ فَإِن كَانَ لَهُۥٓ إِخۡوَةٞ فَلِأُمِّهِ ٱلسُّدُسُۚ مِنۢ بَعۡدِ وَصِيَّةٖ يُوصِي بِهَآ أَوۡ دَيۡنٍۗ ءَابَآؤُكُمۡ وَأَبۡنَآؤُكُمۡ لَا تَدۡرُونَ أَيُّهُمۡ أَقۡرَبُ لَكُمۡ نَفۡعٗاۚ فَرِيضَةٗ مِّنَ ٱللَّهِۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمٗا ١١

Allah mensyari´atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta. Dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Ayat di atas secara tekstual menyatakan bahwa bagian laki-laki dalam satu keluarga itu lebih banyak daripada bagian perempuan dengan perbadingan dua banding satu. Perbandingan ini menunjukkan superioritas laki-laki dari perempuan, penggunaan lafadz adz-dzakar juga menunjukkan eksistensi laki-laki secara mutlak, dan dibandingkan dengan lafadz al-untsa, yang juga menunjukkan eksistensi perempuan secara mutlak.

Namun, jika ditelaah lebih lanjut, maka pembagian ini pada akhirnya akan memberika perbandingan yang sama, sebab, laki-laki merupakan suami dari seorang istri, dan begitu juga sebaliknya, sehingga akan menimbulkan perbandingan yang sama, yakni tiga banding tiga, selain itu, dalam suat keluarga, suami wajib memberikan mahar dan nafkah bagi Isteri, dan isteri tidak wajib memberikan nafkah pada suami, sehingga bagian suami jug akan jatuh kepada isteri.

Dari penjelasan di atas dapat dilihat suatu keadilan yang merata bagi suami dan isteri, sehingga ayat tersebut tidak hanya menunjukkan keutamaan suami terhadap isteri, namun secara implisit juga menunjukkan keadilan antara suami dan isteri dalam hal kewarisan.

Dengan demikian, maka hukum Islam yang mengatur tentang sistem kekeluargaan mengakui adanya persamaan derajat bagi suami dan isteri (ayah dan ibu), sehingga dapat dikatakan bahwa hukum Islam mengakui adanya sistem kekeluargaan baik patrilineal, matrilinel, maupun parental.

Adapun secara tekstual, maka hukum Islam lebih cenderung kepada sistem kekeluargaan patrilineal, sebab melihat pada kondisi masyarakat Mekah dan Madinah yang menganut sistem patrilineal.

KESIMPULAN

Sistem Kekerabatan dan Ruang Lingkupnya Kekerabatan merupakan unit sosial dimana anggota-anggotanya mempunyai hubungan keturunan (hubungan darah). Seseorang dianggap sebagai kerabat oleh orang lain karena dianggap masih satu keturunan atau mempunyai hubungan darah dengan ego.Jenis sistem kekerabatan meliputi patrilineal, matrilineal, bilineal, bilateral.

Hukum Islam tidak hanya mengakui adanya sistem kekerabatan patrilineal, namun juga matrilineal dan bilateral. Walaupun secara tekstual cenderung patrilineal, karena memang pada masa turunyya sistem kekerabatan di tempat turunyya adalah patrilineal, namun jika ditinjau lebih dalam ,maka hukum Islam juga mengakui adanya sistem matrilineal dan patrilineal.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Karim Zaidan, Pengantar Studi Syari’ah Mengenal Syari’ah Islam Lebih Dalam (Jakarta: Robbani Press, 2008)

Damrah Khair, Hukum Kewarisan Islam, (Bandar Lampung: Gunung Pesagi, 1991)

Khairusddin Nasution, Arah Pembangunan Hukum Keluarga Indonesia, (Yogyakarta: Asy-Syaria Jurnal Ilmu Syari’ah dan Hukum, 2012)

Koentjaraningrat. Pengantar Antropologi II : Pokok-Pokok Etnografi. Jakarta: PT. Rineka Cipta: 1998.

Robert M. Kessing, Antropologi Budaya, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1980),

Suyatno, Dasar-dasar Ilmu Fiqh dan Ushul Fiqh ,(Jogjakarta: Ar-Ruz Media, 2011)

Rasyad Hasan Khalil, Tarikh Tasyri’ Sejarah Legislasi Hukum Islam (Jakarta: Amzah, 2010)


[1] Koentjaraningrat,Pengantar Antropologi II : Pokok-Pokok Etnografi(Jakarta: PT. Rineka Cipta,1998), 42.

[2]Robert M. Kessing, Antropologi Budaya, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1980), 212.

[3]Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi II,. 43.

[4]Damrah Khair, Hukum Kewarisan Islam, (Bandar Lampung: Gunung Pesagi, 1991), 3. 

[5]Khairusddin Nasution, Arah Pembangunan Hukum Keluarga Indonesia, (Yogyakarta: Asy-Syaria Jurnal Ilmu Syari’ah dan Hukum, 2012), h. 10.

[6]Koentjaraningrat,Pengantar., 136.