Profil Pejabat & Pegawai

ISLAM DALAM PENDEKATAN HERMENEUTIKA

ISLAM DALAM PENDEKATAN HERMENEUTIKA

Oleh Ahkam Riza Kafabi

Latar Belakang dan Rumusan Masalah

Al-Qur’an merupakan pedoman hidup bagi umat Islam. Al-Qur;an tidak hanya membahas hubungan manusia dengan Allah saja, melainkan juga membahasa hubungan manusia dengan sesamanya, serta manusia dengan alam.

Terdapat banyak metode dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an, seperti dirayah dan riwayat. Melalui metode-metode ini dapat disingkap hal-hal yang tersembunyi dalam Al-Qur’an, sehingga tuntunan hidup manusia menjadi semakin jelas dan terarah, walaupun tak jarang juga terdapat pihak yang menyalahgunakan metode tafsir Al-Qur’an demi kepentingan pribadi maupun golongan tertentu, sehingga mengaburkan nilai-nilai petuah hidup Al-Qur’an.

Seiring dengan berkembangnya zaman dan ilmu pengetahuan, maka dikenal pula metode tafsir yang berasal dari ilmu filsafat, yakni hermeneutika. Hermeneutika, sebagai metode baru dalam penafsiran Al-Qur’an diharapkan mampu menyingkap hal-hal yang tidak dapat diketahui melalui metode tafsir lama. Selanjutnya, hermeneutika juga diharapkan mampu menafsirkan teks-teks keislaman lain, semisal Hadits dan kutubut turats, sehingga mampu menyesuaikan khazanah keislaman dalam setiap kondisi zaman.

Namun, di lain pihak, keberadaan hermeneutika dalam metode penafsiran juga dapat menimbulkan kontra, mengingat bahwa hermeneutika merupakan ilmu yang tidak berasal dari peradaban Islam. Hermeneutika dianggap merupakan “penyusup” dalam keilmuan Islam, dan berpotensi menghancurkan Islam dari dalam.

Hal ini menarik minat menulis untuk menganalisis lebih lanjut mengenai Islam dalam pendekatan hermeneutika. Maka olehn karenanya diambil suatu rumusan masalah berupa pertama Apa pengertian Hermeneutika?dan kedua Bagaimana peran Hermeneutika dalam tafsir Al-Qur’an?

 

Pengertian Hermeneutika

Hermeneutika berasal dari bahasa Yunani, dari kata kerja hermeneuein yang berarti menafsirkan, dan kata benda hermeneia yang berarti penafsiran. Kata Yunani hermeios mengacu pada seorang pendeta bijak dari Delphic. Ketiga kata ini (hermeneuein, hermeneia dan hermeios) diasosiasikan pada Dewa Yunani, Hermes, yang dianggap sebagai utusan para dewa bagi manusia. Hermes diassosiasikan sebagai transmitor pesan dari dewa agar dapat ditangkap oleh intelegensia manusia.[1]

Pengasosiasian Hermeneutik dengan Hermes ini saja secara sekilas menunjukkan adanya tiga unsur yang pada akhirnya menjadi variabel utama pada kegiatan manusia dalam memahami, yaitu:

  1. Tanda, pesan atau teks yang menjadi sumber atau bahan dalam penafsiran yang diasosiasikan dengan pesan yang dibawa oleh Hermes
  2. Perantara atau penafsir (Hermes)
  3. Penyampaian pesan itu oleh sang perantara agar bisa dipahami dan sampai kepada yang menerima.[2]

Istilah hermenutika pertama kali ditemukan dalam karya Plato. Plato dengan jelas menyatakan hermeneutika memiliki arti menunjukkan sesuatu. Dalam Timeus Plato, kata hermenutika dikaitkan dengan otoritas kebenaran. Stoicisme mengembangkan hermeneutika sebagai ilmu interpretasi alegoris. Metode alegoris dikembangkan Philo of Alexandria. Ia mengajukan metode typology yang menyatakan bahwa pemahaman makna spiritual teks tidak berasal dari teks itu sendiri, tetapi kembali pada sesuatu yang di luar teks.[3]

Perkembangan pemikiran hermeneutika dalam teologi Kristen terjadi pada abad pertengahan yang dibawa oleh Thomas Aquinas (1225-1274). Kemunculannya yang didahului oleh transmisi karya-karya Aristoteles ke dalam pemikiran Islam mengindikasikan kuatnya pengaruh pemikiran Aristoteles dan Aristotelian Muslim khususnya al-Farabi (870-950), Ibn Sina (980-1037) dan Ibn Rushd (1126-1198). Dalam karyanya Summa Theologia ia menunjukkan kecenderungan filsafat naturalistik Aristoteles yang juga bertentangan dengan kecenderungan Neo-Platonis St. Augustine. Ia mengatakan bahwa “pengarang kitab suci adalah Tuhan” dan sesuatu yang perlu dilakukan oleh para teolog adalah pemahaman literal. Pemahaman literal lebih banyak merujuk kepada hermeneutika Aristoteles dalam Peri Hermenias nya. Tujuannya adalah untuk menyusun teologi Kristen agar memenuhi standar formulasi ilmiah dan sekaligus merupakan penolakannya terhadap interpretasi alegoris.[4]

Kemudian pada perkembangannya, Hermeneutika digunakan di kalangan sebagian cendekiawan Kristen Protestan sekitar tahun 1654 M. Mereka itu adalah yang tidak puas, dengan penafsiran gereja terhadap teks Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Tidak heran jika The New Encyclopedia Britannica menjelaska bahwa hermeneutika adalah The study of the general principle of Biblical interpretation to discover the truth and values of the Bible (Studi prinsip-prinsip umum tentang penafsiran Bibel untuk mencari kebenaran dan nilai-nilai kebenaran Bibel). [5]

Sementara itu, para ahli, diantaranya Josef Bleicher, membagi Hermeneutika dalam tiga ragam:

  1. Teori Hermeneutika yang menitikberatkan bahasannya pada metodologi
  2. Filsafat Hermeneutika yang fokus bahasannya adalah menelusuri status ontologis dari upaya pemahaman (memahami)
  3. Hermeneutika Kritis yang menekankan bahasanya menyangkut upaya pembuka penyebab-penyebab distorsi dalam pemahaman.[6]

Kajian dalam Hermeneutika

Walaupun dalam perkembangannya, hermeneutik digunakan dalam berbagai kajian keilmuan, namun secara singkat hermeneutik dapat diartikan sebagai suatu metode interpretasi yang memperhatikan konteks kata-kata (dari suatu teks) dan konteks budaya pemikirannya. Hermeneutik juga dapat diartikan sebagai salah satu metode interpretasi yang mempunyai tugas untuk memahami isi dan makna sebuah kata, kalimat, teks, serta untuk menemukan instruksi-instruksi yang terdapat dalam bentuk simbol-simbol.[7]

Dalam hermeneutik, pada umumnya disepakati bahwa luas cakupan hermeneutik berkisar pada tiga hal, yaitu dunia teks (the world of the text), dunia pengarang (the world of the author), dan dunia pembaca (the world of the reader), atau biasa disebut triadik hermeneutik. Hermeneutik berbicara mengenai hampir semua hal yang berkaitan dengan tiga hal tersebut mencakup teks, pembacaan, pemahaman, tujuan penulisan, konteks, situasi historis, dan situasi atau kondisi paradigmatik pemaknaan pembaca ataupun pengarang.

  1. 1.Teori Hermeneutika

Teori hermeneutika memusatkan pada teori umum interpretasi sebagai metodologi ilmu-ilmu humaniora, termasuk ilmu-ilmu sosial kemasyarakatan. Kegiatannya adalah mengkaji metode yang sesuai untuk menafsirkan teks sebagaimana yang diinginkan oleh penulis/pengarang teks agar terhindar dari kesalahpahaman. Tujuan teori hermeneutika adalah untuk mendapatkan arti yang objektif atas suatu teks menurut ukuran pengarang teks.

Schleiermacher menggunakan pendekatan psikologis yang menyatakan bahwa hermeneutika adalah kegiatan penafsiran untuk mengalami kembali proses-proses mental dari pengarang teks. Dilthey lebih menggunakan pendekatan historis dalam teori hermeneutika. Dia berpendapat bahwa makna merupakan hasil dari aktifitas penafsiran yang tidak ditentukan oleh subyek transendental tetapi lahir dari realitas hidup yang menyejarah. Menurutnya teks adalah representasi dari kondisi historikalitas pengarang teks.[8]

  1. 2.Filsafat Hermeneutika

Hermeneutika filosofis merupakan aktifitas penafsiran yang lebih melihat pada aspek ontologis dari sebuah teks. Dalam hal ini penfasir telah memiliki prasangka atau pra-pemahaman atas teks sehingga tidak memperoleh makna teks secara obyektif. Apabila teori hermeneutika bertujuan untuk mereproduksi makna sebagaimana makna awal yang dikehendaki oleh penulis teks, maka filsafat hermeneutika bertujuan untuk memproduksi makna baru.

Tokoh filsafat hermeneutika yaitu Heidegger dan Gadamer. Heidegger menggeser konsep hermeneutika dari wilayah metodologis-epistimologis ke ontologis. Hermeneutika bukan a way of knowing tetapi a mode of being. Gadamer juga berpendapat bahwa penafsiran adalah peleburan horizon-horizon, horizon penulis teks dan horizon penafsir (masa lalu dan masa kini).[9]

  1. 3.Hermeneutika Kritis

Hermeneutika kritis maksudnya adalah penafsiran yang mengkritik standar konsep-konsep penafsiran sebelumnya (teori hermeneutika dan filsafat hermeneutika). Meskipun antara teori hermeneutika dan filsafat hermeneutika memiliki sudut pandang yang berbeda tentang penafsiran, tetapi keduanya tetap berusaha menjamin kebenaran makna teks. Hal inilah yang menjadi letak kritik hermeneutika kritis karena lebih cenderung mencurigai teks karena teks diasumsikan sebagai tempat persembunyian kesadaran-kesadaran palsu.

Tokoh yang menggunakan hermeneutika kritis adalah Habermas. Dia selalu mempertimbangkan faktor-faktor di luar teks yang dianggap dapat membantu memahami konteks suatu teks. Inti dari hermeneutika kritis adalah: Bahwa makna adalah milik manusia. Kemudian tanpa konteks, maka teks yang dimaknai menjadi tidak berharga dan tidak berfungsi apa-apa.[10]

Hermeneutika dalam Tafsir Al-Qur’an

Ditinjau dari segi sejarah, hermeneutika muncul dari adanya keraguan atas keotentikan Bibel sehingga timbul desakan rasionalisasi yang dipelopori oleh filsafat Yunani waktu itu. Mereka meyakini bahwa Bibel bukan ditulis oleh Nabi ‘Isa yang dipercayai sebagai Yesus dan bukan pula ditulis oleh murid-murid beliau, tetapi ditulis oleh orang-orang yang tidak pernah bertemu dengan Nabi ‘Isa. Dalam perjanjian baru, terdapat Injil Johanes, Injil Markus, Injil Mathius, Injil Lukas dan sebagainya. Dengan demikian bahwa Bibel merupakan hasil karya para penulisnya dan Tuhan menurunkan wahyunya kepada para penulis wahyu dalam bentuk inspirasi.[11]

Hal ini yang membedakan dengan al-Qur’an yang tidak mengalami permasalahan dari segi sejarah. Al-Qur’an sudah jelas riwayat dan sanadnya serta telah dihafal oleh para sahabat di bawah bimbingan Rasulullah SAW. Al-Qur’an memiliki jalur periwayatan yang amat banyak. Sedangkan Bibel, selain riwayatnya tunggal (ahad) yang dibawa oleh seorang saja, baik Johanes, Markus, Lukas maupun Mathius, periwayatan Bibel juga mursal, sanadnya terputus karena tidak pernah bertemu dengan Nabi ‘Isa secara langsung.[12]

Karena terdapat perbedaan antara Al-Qur’an dan Bibel sebagaimana disebut di atas, maka Hermeneutika dalam penafsiran Al-Qur’an juga harus disesuaikan dengan perbedaan ini. Al-Qur’an tidak boleh dipahami sebagai teks buatan manusia, yang dimungkinkan mengalami perubahan sesuai dengan kondisi zaman dan tempat, melainkan Al-Qur’an harus dipahami sebagai kalamullah, yang sesuai dengan setiap kondisi zaman dan tempat.

Namun hal ini juga tidak membatasi Hermeneutika dalam posisi manusia sebagai penafsir, sehingga penafsiran Ayat-ayat Al-Qur’an tidak lagi digantungkan kepada wahyu, hadits maupun atsar, sebagaimana berlaku dalam tafsir riwayat, melainkan diserahkan kepada penafsir itu sendiri.

Metode hermeneutika dianggap memiliki ciri khas, yaitu pengembangan nilai kontekstualisasi suatu teks yang akan diteliti. Lebih dari itu, hermeneutika berusaha menggali makna dengan mempertimbangkan batas yang jelas dan melingkupi teks. Batas yang dimaksud adalah teks, pengarang, dan pembaca atau mufassir.

Pendekatan hemeneutika bahasa sangat penting bagi kehidupan manusia. Manusia dapat melakukan aktivitas seperti menulis, membaca dan berfikir tidak lepas dari bahasa. Demikian juga dengan Al-Qur’an, bahasa teks menjadi salah satu faktor penting dalam memahami Al-Qur’an maupun hadits. Sebab bahasa (teks) merupakan satu-satunya yang digunakan untuk menyapa pembacanya. Al-Qur’an sendiri menggunakan bahasa Arab sebagai alat komunikasi yang dipakainya. Menyadari pentingnya teks ini, maka langkah pertama dalam menafsirkan Al-Qur’an adalah memahami teksnya yang berbahasa Arab. Dengan memahami bahasa Arab, seorang penafsir akan memiliki bekal awal untuk memahami makna, hikmah maupun hukum Al-Qur’an secara tepat.[13]

Oleh karena itu, dari sudut teks ini terdapat tiga aspek yang harus dipahami, yakni: pertama, dalam teks, ide dan teks tersebut lepas dari pengarang. Kedua, di belakang teks, teks merupakan kristalisasi linguistik dari realitas yang mengitarinya. Ketiga, di depan teks, makna baru yang tercipta setelah pembaca dengan batas yang dimilikinya untuk memahami teks tersebut.[14] Jika diapplikasikan pada Al-Qur’an, maka dalam aspek pertama, penafsiran dititikberatkan pada gramatikal dan ilmu tata bahasa Arab, serta ilmu-ilmu lain yang melingkupinya. Kemudian pada aspek kedua, maka penafsiran harus menilik pada asbabun nuzul. Ketiga, harus memahami bahwa Al-Qur’an merupakan kalamullah yang Shalihun li Kulli Zaman.

Ketika pengarang (author) Al-Qur’an adalah tuhan yang transenden dan ahistoris maka Ia diwakili oleh Muhammad SAW. yang diyakini umat Islam sebagai penafsir otoritatif atas Al-Qur’an. Relasi Muhammad SAW. dan Al-Qur’an dengan relasi historis ini dapat dilihat beberapa hal berikut. Pertama, tema-tema yang diusung Al-Qur’an seperti doktrin monoteisme, keadilan sosial, ekonomi, merupakan bagian pengalaman religius Muhammad saw. yang orisinil. Kedua, reformasi yang dilakukan Nabi selalu dimulai dengan mempersiapkan dahulu landasan yang kuat sebelum memperkenalkan sesuatu tindakan atau perubahan yang besar. Ketika Nabi masih tinggal di Mekkah, Nabi belum memiliki kekuasaan untuk bertindak dalam sektor legislasi umum. Setelah tinggal di Madinah dan memiliki wewenang administrasi dan politik, Nabi baru membuat hukum-hukum. Ketiga, Al-Qur’an selalu mempunyai konteks sosial (asbab alnuzul). Karena Muhammad saw. hidup dan berinteraksi dengan masyarakat Arab, maka menjadi keharusan bagi penafsir yang ingin memahami Al-Qur’an untuk memahami pula dimensi historis-sosiologis yang menyertai masyarakat Arab itu. Dengan demikian, untuk menangkapp makna Al-Qur’an secara konprehensif, maka seluruh aktivitas Muhammad saw. yang merupakan penjabaran Al-Qur’an pada tingkat aktual harus dipahami secara utuh. Dari narasi tersebut ada proses terciptanya sebuah teks; a) tahapan pengalaman atau gagasan yang belum termasukkan (prafigurasi), b) ketika outhor mulai menciptakan gagasannya (konfigurasi), c) tahap teks yang sudah diciptakan dan ditafsirkan bayak orang (transfigurasi).[15]

Selain itu, fakta bahwa Muhammad SAW. adalah utusan Allah sangat tepat untuk menempatkan posisinya sebagai author dalam teks Al-Qur’an, sebab Allah yang Maha Tahu tentu saja mengetahui perbuatan Nabi Muhammad SAW, dan tidak mungkin Nbi sebagai Utusan Allah berbeda pendapat dengan Allah selaku pengutus.

Selain situasi sosial pada masa Nabi, situasi sosial masyarakat kontemporer yang mempengaruhi pembaca juga merupakan hal yang penting untuk dipahami penafsir. Pemahaman ini akan menjadi dasar untuk menerapkan prinsip-prinsip umum, nilai-nilai dan tujuan Al-Qur’an dalam kasus aktual secara tepat. Penafsir harus menguasai dimensi yang membentuk situasi masyarakat kontemporer tersebut, baik ekonomi, politik, kebudayaan maupun yang lain, lalu mengubahnya sejauh yang diperlukan, baru kemudian menentukan prioritas-prioritas baru untuk bisa menerapkan Al-Qur’an secara baru pula.[16]

Sementara itu, korelasi antara teks Al-Qur’an dengan ilmu pegetahuan telah banyak dinyatakan oleh pakar. Sebagai contoh, terjadinya alam semesta terkait dengan surat Fushilat ayat 11,

ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰٓ إِلَى ٱلسَّمَآءِ وَهِيَ دُخَانٞ فَقَالَ لَهَا وَلِلۡأَرۡضِ ٱئۡتِيَا طَوۡعًا أَوۡ كَرۡهٗا قَالَتَآ أَتَيۡنَا طَآئِعِينَ ١١

Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa". Keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati"[17]

pembagian unsur atom pada surat Yunus ayat 61

وَمَا تَكُونُ فِي شَأۡنٖ وَمَا تَتۡلُواْ مِنۡهُ مِن قُرۡءَانٖ وَلَا تَعۡمَلُونَ مِنۡ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيۡكُمۡ شُهُودًا إِذۡ تُفِيضُونَ فِيهِۚ وَمَا يَعۡزُبُ عَن رَّبِّكَ مِن مِّثۡقَالِ ذَرَّةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِي ٱلسَّمَآءِ وَلَآ أَصۡغَرَ مِن ذَٰلِكَ وَلَآ أَكۡبَرَ إِلَّا فِي كِتَٰبٖ مُّبِينٍ ٦١ 

 Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)[18]

berkurangnya oksigen pada ketinggian tertentu, pada surat Al-An’am ayat 125. [19]

فَمَن يُرِدِ ٱللَّهُ أَن يَهۡدِيَهُۥ يَشۡرَحۡ صَدۡرَهُۥ لِلۡإِسۡلَٰمِۖ وَمَن يُرِدۡ أَن يُضِلَّهُۥ يَجۡعَلۡ صَدۡرَهُۥ ضَيِّقًا حَرَجٗا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي ٱلسَّمَآءِۚ كَذَٰلِكَ يَجۡعَلُ ٱللَّهُ ٱلرِّجۡسَ عَلَى ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ ١٢٥ 

Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.[20]

Hal tersebut menunjukkan bahwa peranan Hermeneutika dalam studi Islam melalui tafsir Al-Qur’an adalah menemukan kesesuaian antara Ayat-ayat Al-Qur’an dengan Ilmu Pengetahuan, yang juga menunjukkan kemukjizatan Al-Qur’an dan kemuliaannya. Diharapkan dengan metode Hermeneutika yang sesuai dengan kaidah tafsir Al-Qur’an dapat menambah pengetahuan penafsiran Al-Qur’an.

Kesimpulan

Dari pemaparan di atas dapat penulis simpulkan bahwa hermeneutik dapat diartikan sebagai suatu metode interpretasi yang memperhatikan konteks kata-kata (dari suatu teks) dan konteks budaya pemikirannya.

Josef Bleicher, membagi Hermeneutika dalam tiga ragam:

  1. Teori Hermeneutika yang menitikberatkan bahasannya pada metodologi
  2. Filsafat Hermeneutika yang fokus bahasannya adalah menelusuri status ontologis dari upaya pemahaman (memahami)
  3. Hermeneutika Kritis yang menekankan bahasanya menyangkut upaya pembuka penyebab-penyebab distorsi dalam pemahaman.

Metode hermeneutika dianggap memiliki ciri khas, yaitu pengembangan nilai kontekstualisasi suatu teks yang akan diteliti. Lebih dari itu, hermeneutika berusaha menggali makna dengan mempertimbangkan batas yang jelas dan melingkupi teks. Batas yang dimaksud adalah teks, pengarang, dan pembaca atau mufassir. Hermeneutika dalam studi Islam melalui tafsir Al-Qur’an menemukan kesesuaian antara Ayat-ayat Al-Qur’an dengan Ilmu Pengetahuan, yang juga menunjukkan kemukjizatan Al-Qur’an dan kemuliaannya.


[1] Richard E. Palmer, dalam Muflihah, “Hermeneutika Sebagai Metoda Interpretasi Al-Qur’an”, Jurnal Mutawatir, Vol. 2, No. 1 (Surabaya: IAIN Sunan Ampel, 2012), 47-48.

[2] Fahruddin Faiz, Hermeneutika Al-Qur’an, Tema-tema Kontroversial (Yogyakarta: eLSAQ Press, 2005), 4.

[3] Saifuddin, “Hermeneutika Sufi (Menembus Makna di Balik Kata)” dalam Sahiron Syamsuddin, Hermeneutika al-Qur’an dan Hadis, (Sleman: eLSAQ, 2010), 36.

[4] Hamid Fahmy Zarkasyi, “Hermeneutika Sebagai Produk Pandangan Hidup”, Kumpulan Makalah Workshop Pemikiran Islam Kontemporer, (Kairo: IKPM cabang Kairo, 2006), 2.

[5] M. Quraish Shihab,  Kaidah Tafsir: Syarta, Ketentuan dan Aturan yang Patut Anda Ketahui dalam Memahami Ayat-Ayat Al-Qur’an (Tangerang: Lentera Hati, 2015), 403-404.

[6] Ibid., 405.

[7] Ansori, “Teks dan Otoritas (Memahami Pemikiran Hermeneutika Khaled M. Abou El-Fadl)”, Jurnal Studi Ilmu-ilmu al-Qur’an dan Hadis, Vol. 10, No. 1 (Yogyakarta: Jur. Tafsir Hadits, 2009), 55.

[8] Ulya, Berbagai Pendekatan Studi al-Qur’an, (Yogyakarta: Idea Press, 2010), 62.

[9] Ibid, 63.

[10] Ibid, 64.

[11] Arifin Jamil, “Permasalahan Hermeneutika dalam Tafsir al-Qur’an”, http://arifinmalay.blogspot.com/2011/12/permasalahan-hermeneutika-dalam-tafsir.html, diunggah pada 21 Desember 2011.

[12] Ibid.

[13] Muammad Firliadi Noor Salim, “Hermeneutika dan Tafsir Al-Qur’an”, t.tp, t.t. 10-12.

[14] Ibid.

[15] Ibid.

[16] Ibid.

[17] QS. Fushilat (41): 11.

[18] QS. Yunus (10): 41.

[19] Andi Rosadisastra, Metode Tafsir Ayat-ayat Sains dan Sosial (Jakarta: Amzah, 2007), 3-4.

[20] QS. Al-An’am (6): 125.